Konsep Belajar Mandiri (Apa,Mengapa,Bagaimana)

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Belajar merupakan kegiatan ilmiah manusia. Manusia dapat bertahan dan hidup sejahtera karena belajar. Manusia melakukan kegiatan belajar dengan tujuan agar dapat memiliki kemampuan untuk menjawab tantangan alam. Belajar bukanlah sekedar menerima informasi dari orang lain tentang apa yang ingin diketahuinya Manusia belajar secara mandiri atau secara individual. Belajar mandiri juga merupakan belajar di masa depan. Di satu sisi tantangan kehidupan semakin keras, dan masalah yang menghadap kehidupan manusia semakin banyak, di sisi lain biaya pendidikan semakin mahal.

Kegiatan belajar mandiri dapat diawali dengan kesadaran adanya masalah, sehingga menimbulkan niat melakukan kegiatan belajar secara sengaja untuk menguasai suatu kompetensi yang diperlukan guna mengatasi masalah. Kegiatan belajar tersebut berlangsung dengan ataupun tanpa bantuan orang lain. Maka belajar mandiri secara fisik dapat berupa belajar sendiri atau bersama orang lain, dengan atau tanpa bantuan guru profesional.

Hasil Penelitian Ni Nyoman Lisna Handayani dalam Jurnal Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti pembelajaran mandiri lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Oleh karena itu Pembelajaran sepanjang hidup diperlukan karena masalah akan selalu timbul di dalam perjalanan hidup setiap orang.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa yang dimaksud dengan Belajar Mandiri?
  3. Apa saja indikator niat dalam Belajar Mandiri?
  4. Bagaimana Model Pembelajaran Mandiri?
  5. Mengapa Motivasi Belajar disebut Titik Sentral Pembelajaran?

BAB II

Pembahasan

  1. Konsep Belajar Mandiri
  2. Pengertian

Sebelum menuju pada pengertian belajar mandiri terlebih dahulu akan diulas tentang pengertian belajar dimana belajar merupakan proses perubahan kepribadian dan tingkah laku manusia dari tidak tahu menjadi tahu, sedangkan pengertian mandiri yaitu keadaan dapat berdiri sendiri atau tidak tergantung pada orang lain serta memiliki perilaku yang mampu berinisiatif atas dasar keinginan menguasai suatu kompetensi.

Belajar mandiri merupakan kegiatan belajar aktif yang didorong oleh niat atau motif untuk menguasai suatu kompetensi guna untuk menyelesaikan suatu masalah, hal tersebut dibangun dengan bekal pengetahuan atau kompetensi yang telah dimiliki. Pembelajaran Mandiri adalah proses dimana siswa dilibatkan dalam mengidentifikasi apa yang perlu untuk dipelajari dan menjadi pemegang kendali dalam menemukan dan mengorganisir jawaban. Hal ini berbeda dengan belajar sendiri (Kirkman, 2007:180)

Penetapan kompetensi sebagai tujuan belajar, dan cara pencapaiannya baik penetapan waktu belajar, tempat belajar, sumber belajar maupun evaluasi hasil belajar dilakukan oleh pembelajaran mandiri. Selain komponen-komponen utama dalam konsep belajar mandiri, ada beberapa ciri-ciri lain yang menandai belajar mandiri, antara lain:

  1. Pyramid Tujuan, semakin tinggi kualitas kegiatan belajar, akan semakin banyak kompetensi yang diperoleh.
  2. Sumber belajar dari guru, tutor, kawan dll dan Media Belajar antara lain: paket-paket belajar yang berisi self instructional material, buku teks, hingga teknologi informasi lanjut.
  3. Belajar mandiri dapat dilakukan dimanapun tempat yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar dan dapat dilaksanakan setiap waktu
  4. Pembelajar memiliki cara belajar yang tepat untuk dirinya sendiri (auditif, visual, kinestetik, atau tipe campuran)
  5. Belajar mandiri juga dapat dijalankan dalam sistem pendidikan formal, nonformal, ataupun bentuk-bentuk belajar campuran.
  6. Batasan-batasan pembelajaran mandiri
  7. Kegiatan belajar aktif merupakan kegiatan belajar yang memiliki cirri keaktifan pembelajar, persistensi, keterarahan dan kreativitas untuk mencapai tujuan.
  8. Motif atau niat untuk menguasai suatu kompetensi adalah kekuatan pendorong kegiatan belajar secara intensif, persisten, terarah dan kreatif.
  9. Kompetensi adalah pengetahuan atau keterampilan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah.
  10. Dengan pengetahuan yang telah dimiliki, pembelajar mengolah informasi yang diperoleh dari sumber belajar sehingga menjadi pengetahuan ataupun keterampilan baru yang dibutuhkannya.
  11. Tujuan belajar hingga evaluasi hasil belajar, ditetapkan sendiri oleh pembelajar sehingga mereka sepenuhnya menjadi pengendali kegiatan belajar.
  12. Wujud Fisik Belajar Mandiri

Seseorang yang sedang menjalankan kegiatan belajar mandiri lebih ditandai dan ditentukan oleh yang mendorongnya belajar. Bukan oleh kemapuan fisik kegiatan belajarnya. Pembelajar dapat sedang belajar sendirian, belajar kelompok atau sedang dalam kegiatan belajar di kelas. Apabila motif yang mendorong kegiatan belajar adalah motif untuk menguasai suatu kompetensi yang diinginkan maka pembelajar sedang menjalankan belajar mandiri. Belajar mandiri jenis ini disebut sebagai Self-motivated Learning.

  1. Motif dalam Belajar Mandiri adalah yang melatarbelakangi perbuatan belajar bukan kenampakan wujud fisik kegiatan belajarnya karena kenampakan fisik ibarat kulit belum tentu mencerminkan isi.
  2. Guru dituntut untuk dapat menumbuhkan niat atau motif belajar dalam diri pembelajar.
  3. Indikator Niat

Indikator niat yang sekaligus menjadi indikator Belajar Mandiri antara lain:

  1. Persistence : lama, terus menerus, dan tidak berhenti
  2. Consistence : ajeg, disiplin, dan tidak malas-malasan
  3. Systematic : terencana dan berorientasi pada kompetensi
  4. Goal Orientedness : fokus untuk mencapai tujuan
  5. Innovative : mencari jalan keluar baru
  6. Follow-up clarity : tindak lanjut kegiatan selalu jelas
  7. Learning for Live : dilakukan sepanjang hidup
  8. Model Pembelajaran Mandiri

Model Pembelaajran merupakan cara yang digunakan oleh seorang guru untuk menunjang proses belajar siswa dengan pola dan kegiatan bertahap (Trianto, 2007:34). Semua model pembelajaran yang bertujuan meningkatkan motivasi belajar dapat dianggap sebagai model pembelajaran mandiri.

  1. Model-model yang berada di bawah payung besar Belajar Aktif yang sekaligus dapat dianggap sebagai Model Belajar Mandiri diantaranya adalah Problem-based Learning, Pendekatan Keterampilan Proses, Jigsaw, dll
  2. Penguasaan Dua Tataran
  3. Tataran Konseptual : Pemahaman terhadap paradigma konstruktivisme dan Konsep Belajar Mandiri
  4. Tataran Teknis             : Pemahaman model-model pembelajaran inovatif, teknik mengajar, teknik belajar, learning motivation, learning behavior, learning achievement dan teknik pengembangan motivasi belajar
  5. Pembelajaran Inovatif-Konstruktivistik

Dalam model-model inovatif nampak ada upaya untuk memberikan perlakuan-perlakuan remediatif agar mereka bisa melangkah bersama-sama sebagai suatu kelas. Paham Konstruktivisme menetapkan tujuan untuk membentuk pengetahuan baru, maka evaluasi yang diterapkan adalah menguji proses berpikir, melalui observasi, portofolio, dan kualitatif.

  1. Desain pembelajaran Konstruktivistik adalah yang penting merencanakan kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan murid dan guru merencanakan pengorganisasiannya. Konstruktivisme menuntut murid murid untuk menggunakan anugerah yang dimilikinya, ialah kemampuan berfikir.
  2. Asusmsi epistemologis: Penekanan pada aspek kemampuan kognitif ini nampak pada asumsi-asumsi epistemologis yang digunakan dalam konstruktivisme:
  • Pengetahuan secara fisik dibangun oleh peserta didik yang terlibat dalam pembelajaran aktif
  • Pengetahuan simbolis dibangun oleh peserta didik yang membuat representasi mereka sendiri berupa tindakan
  • Pengetahuan sosial dibangun oleh peserta didik yang menyampaikan keputusan maknanya kepada orang lain
  • Pengetahuan teoritis dibangun oleh peserta didik yang mencoba untuk menjelaskan hal-hal yang mereka tidak benar-benar mengerti
  • Siswa yang terlibat dalam pembelajaran aktif membuat makna mereka sendiri dan membangun pengetahuan sendiri dalam proses
  1. Motivasi Belajar Titik Sentral Pembelajaran
  2. Bukti Bahwa Motivasi Belajar merupakan Titik Sentral Pembelajaran
  3. Motivasi Belajar akan mempengaruhi intensitas Kegiatan Belajar sehingga akan berpengaruh kepada pencapaian Hasil Belajar.

Semakin tinggi motivasi belajar semakin intensif kegiatan belajar. Semakin intensif kegiatan belajar semakin baik hasil belajar. Tetapi sebaliknya, semakin baik hasil belajar bisa diharapkan semakin tinggi pula motivasi belajarnya.

  1. Semua komponen konsep Belajar Mandiri menunjang Motivasi Belajar:
  • Bila Konstruktivisme berhasil, motivasi belajar akan meningkat
  • Bila Belajar Aktif terlaksana dengan baik, motivasi belajar meningkat
  • Bila kompetensi belajar tercapai, motivasi belajar akan meningkat. Dengan demikian Motivasi Belajar memang merupakan titik sentral dalam konsep Belajar Mandiri.
  1. Tahap-tahap pengembangan Belajar Mandiri:
  2. Tahap pemberian stimulus: Pembelajar diberi rangsangan berupa bahan ajar dengan metode penyampaian yang menarik. Tujuanya agar pembelajar tertarik kepada bahan ajar yang diberikan.
  3. Tahap penumbuhan niat: Terjadi proses menimbang-nimbang, apakah ia akan dapat mengambil manfaat dari kegiatan pembelajaran yang diberikan.
  4. Tahap pembuatan keputusan: Kemungkinan keputusan yang diambil adalah meneruskan niat dengan melakukan perbuatan; menunda niat; atau membatalkan niat dan tidak menindak lanjuti dengan perbuatan.
  5. Tahap tindakan: Pembelajar melaksanakan kegiatan pembelajaran yang telah diputuskan untuk dilakukan.
  6. Tahap penilaian: Apakah tindakan belajar berjalan lancar dan tidak terlalu menyulitkan dalam bandingannya dengan hasil yang diperolehnya.

BAB III

Kesimpulan dan Rekomendasi

  1. Kesimpulan Bahasan

Belajar mandiri merupakan kegiatan belajar aktif yang didorong oleh niat atau motif untuk menguasai suatu kompetensi guna untuk menyelesaikan suatu masalah, hal tersebut dibangun dengan bekal pengetahuan atau kompetensi yang telah dimiliki. Penetapan kompetensi sebagai tujuan belajar, dan cara pencapaiannya baik penetapan waktu belajar, tempat belajar, sumber belajar maupun evaluasi hasil belajar dilakukan oleh pembelajaran mandiri.

  1. Rekomendasi berdasarkan Kesimpulan

Dari kesimpulan di atas, belajar mandiri lebih ditentukan oleh motif belajar yang timbul di dalam diri pembelajar, maka pendidik dalam menyelenggarakan pembelajarannya dituntut untuk dapat menumbuhkan niat atau motif belajar dalam diri pembelajar. Oleh karena itu pendidik harus sungguh-sungguh menguasai bidang studinya. Selain itu mereka harus menguasai berbagai teknik mengajar untuk menarik pembelajar terhadap materi pelajarannya dan selanjutnya tertarik untuk mempelajarinya sendiri lebih jauh. Berbagai teknik belajar juga perlu dikuasai oleh pendidik untuk diajarkan atau dilatihkan kepada pembelajar agar mampu melakukan kegiatan belajar lebih jauh tanpa bantuan sepenuhnya oleh pendidik.

DAFTAR RUJUKAN

 

Handayani, Ni Nyoman Lisna. 2013. Pengaruh Model Pembelajaran Mandiri Terhadap Kemandirian Belajar dan Prestasi Belajar IPA Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Singaraja. E-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Pendidikan Dasar .(Volume 3 Tahun 2013). Halaman 1 s/d 10

Jihad, A., & Haris, A. 2008. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta:Multi Presindo

Kirkman, S., Coughin., & Kromrey, J. 2007. Correlates of satisfaction and success in self-directed learning:relationship with school experience, course format, and internet use. International Journal of Self-Directed Learning. 4(1). Halaman 39 s/d 52

Mudjiman, Haris. 2011. Belajar Mandiri. Yogyakarta : UNS Press.

Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstuktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher

Berikut kami bubuhkan presentasi dalam bentuk power point:

PPT Konsep Belajar Mandiri

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s