PENDEKATAN PEMBELAJARAN MULTIKULTURAL

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Kenyataan ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural dimana Indonesia memiliki beraneka ragam etnis, budaya, bahasa, ras dan agama. Multikulturalisme di Indonesia merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindarkan. Namun pada kenyataannya kondisi demikian tidak pula diiringi dengan keadaan sosial yang membaik. Bahkan banyak terjadinya ketidakteraturan dalam kehidupan sosial di Indonesia pada saat ini yang menyebabkan terjadinya berbagai ketegangan dan konflik.

Praktek kekerasan yang mengatasnamakan agama, dari fundamentalisme, radikalisme, hingga terorisme, akhir-akhir ini semakin marak di tanah air. Kesatuan dan persatuan bangsa saat ini sedang diuji eksistensinya. Berbagai indikator yang memperlihatkan adanya tanda-tanda perpecahan bangsa, dengan transparan mudah kita baca. Padahal kondisi masyarakat Indonesia yang sangat plural baik dari aspek suku, ras, agama serta status sosial memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap perkembangan dan dinamika dalam masyarakat. Kondisi yang demikian memungkinkan terjadinya benturan antar budaya, antar ras, etnik, agama dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.

Pendidikan multikultural menawarkan satu alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan yang berbasis keragaman yang ada di masyarakat, khususnya yang ada pada siswa seperti keragaman etnis, budaya, bahasa, agama, status sosial, gender, kemampuan, umur.

Berkaitan dengan hal itu dipandang sangat penting memberikan porsi pendidikan multikultural sebagai wacana baru dalam sistem pendidikan di Indonesia, terutama agar peserta didik memiliki kepekaan dalam menghadapi gejala-gejala dan masalah-masalah sosial yang berakar pada perbedaan kerena suku, ras, agama dan tata nilai yang terjadi pada lingkungan masyarakatnya sehingga dapat menanamkan persatuan dan kesatuan. Hal ini dapat diimplementasi baik pada substansi maupun model pembelajaran yang mengakui dan menghormati keanekaragaman budaya. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas tentang pendekatan pembelajaran multikultural.

 

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka diperoleh rumusan masalah, yaitu:

  1. Apakah pendidikan multikultural itu?
  2. Mengapa diperlukan pembelajaran berbasis multikultural?
  3. Bagaimana langkah-langkah dalam mengembangkan pembelajaran berbasis multikultural di Indonesia?
  4. Bagaimana penerapan dan pengembangan pendidikan multikultural di Indonesia?

 

  1. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui:

  1. Pengertian, dimensi dan pendekatan pendidikan multikultural
  2. Tujuan pembelajaran berbasis multikultural
  3. Langkah-langkah dalam mengembangkan pembelajaran berbasis multikultural di Indonesia.
  4. Penerapan dan pengembangan pendidikan multikultural di Indonesia

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pendidikan Multikultural
  2. Pengertian

Multikulturalisme adalah sistem keyakinan dan perilaku yang mengakui dan menghormati kehadiran semua kelompok yang beragam dalam suatu organisasi atau masyarakat, mengakui sosial-budaya mereka yang berbeda, dan mendorong dan memungkinkan kontribusi melanjutkan mereka dalam konteks budaya inklusif yang memberdayakan semua dalam organisasi atau masyarakat. Sedangkan Pendidikan multikultural didefinisikan sebagai sebuah kebijakan sosial yang didasarkan pada prinsip-prinsip pemeliharaan budaya dan saling memiliki rasa hormat antara seluruh kelompok budaya di dalam masyarakat. Pendidikan multikultural adalah suatu sikap dalam memandang keunikan manusia dengan tanpa membedakan ras, budaya, jenis kelamin, kondisi jasmaniah atau status ekonomi seseorang. Dalam lingkup pendidikan, diperlukan suatu pembelajaran yang mencakup tentang multikularisme agar peserta didik dapat mengakui dan menghormati keragaman kelompok sosial lainnya.

Pembelajaran multikultural adalah kebijakan dalam praktik pendidikan dalam mengakui, menerima dan menegaskan perbedaan dan persamaan manusia yang dikaitkan dengan gender, ras, dan kelas (Sleeter and Grant, 1988). Pembelajaran multikultural pada dasarnya merupakan program pendidikan bangsa agar komunitas multikultural dapat berpartisipasi dalam mewujudkan kehidupan demokrasi yang ideal bagi bangsanya (Banks, 2007).

Pembelajaran berbasis multikultural berusaha memberdayakan siswa untuk mengembangkan rasa hormat kepada orang yang berbeda budaya, memberi kesempatan untuk bekerja bersama dengan orang atau kelompok orang yang berbeda etnis atau rasnya secara langsung. Pendidikan multikultural juga membantu siswa untuk mengakui ketepatan dari pandangan-pandangan budaya yang beragam, membantu siswa dalam mengembangkan kebanggaan terhadap warisan budaya mereka, menyadarkan siswa bahwa konflik nilai sering menjadi penyebab konflik antar kelompok masyarakat (Savage & Armstrong, 1996).

Dalam konteks yang luas, pendidikan multikultural mencoba membantu menyatukan bangsa secara demokratis, dengan menekankan pada perspektif pluralitas masyarakat di berbagai bangsa, etnik, kelompok budaya yang berbeda. Dengan demikian pembelajaran sekolah dikondisikan untuk mencerminkan praktik dari nilai-nilai demokrasi. Kurikulum menampakkan aneka kelompok budaya yang berbeda dalam masyarakat, bahasa, dan dialek, dimana para pelajar lebih baik berbicara tentang rasa hormat di antara mereka dan menunjung tinggi nilai-nilai kerjasama, dari pada membicarakan persaingan dan prasangka di antara sejumlah pelajar yang berbeda dalam hal ras, etnik, budaya dan kelompok status sosialnya

 

  1. Dimensi dan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Multikultural

James A. Banks (1993, 1994-a), mengidentifikasi ada lima dimensi pendidikan multikultural yang diperkirakan dapat membantu guru dalam mengimplementasikan beberapa program yang mampu merespon terhadap perbedaan pelajar (siswa), yaitu:

  1. Dimensi integrasi isi/materi (content integration).

Dimensi ini digunakan oleh guru untuk memberikan keterangan dengan ‘poin kunci’ pembelajaran dengan merefleksi materi yang berbeda-beda. Secara khusus, para guru menggabungkan kandungan materi pembelajaran ke dalam kurikulum dengan beberapa cara pandang yang beragam. Salah satu pendekatan umum adalah mengakui kontribusinya, yaitu guru-guru bekerja ke dalam kurikulum mereka dengan membatasi fakta tentang semangat kepahlawanan dari berbagai kelompok. Di samping itu, rancangan pembelajaran dan unit pembelajarannya tidak dirubah. Dengan beberapa pendekatan, guru menambah beberapa unit atau topik secara khusus yang berkaitan dengan materi multikultural.

  1. Dimensi konstruksi pengetahuan (knowledge construction).

Suatu dimensi dimana para guru membantu siswa untuk memahami beberapa perspektif dan merumuskan kesimpulan yang dipengaruhi oleh disiplin pengetahuan yang mereka miliki. Dimensi ini juga berhubungan dengan pemahaman para pelajar terhadap perubahan pengetahuan yang ada pada diri mereka sendiri

  1. Dimensi pengurangan prasangka (prejudice ruduction).

Guru melakukan banyak usaha untuk membantu siswa dalam mengembangkan perilaku positif tentang perbedaan kelompok. Sebagai contoh, ketika anak-anak masuk sekolah dengan perilaku negatif dan memiliki kesalahpahaman terhadap ras atau etnik yang berbeda dan kelompok etnik lainnya, pendidikan dapat membantu siswa mengembangkan perilaku intergroup yang lebih positif, penyediaan kondisi yang mapan dan pasti. Dua kondisi yang dimaksud adalah bahan pembelajaran yang memiliki citra yang positif tentang perbedaan kelompok dan menggunakan bahan pembelajaran tersebut secara konsisten dan terus-menerus.

  1. Dimensi pendidikan yang sama/adil (equitable pedagogy).

Dimensi ini memperhatikan cara-cara dalam mengubah fasilitas pembelajaran sehingga mempermudah pencapaian hasil belajar pada sejumlah siswa dari berbagai kelompok. Strategi dan aktivitas belajar yang dapat digunakan sebagai upaya memperlakukan pendidikan secara adil, antara lain dengan bentuk kerjasama (cooperative learning), dan bukan dengan cara-cara yang kompetitif (competition learning). Dimensi ini juga menyangkut pendidikan yang dirancang untuk membentuk lingkungan sekolah, menjadi banyak jenis kelompok, termasuk kelompok etnik, wanita, dan para pelajar dengan kebutuhan khusus yang akan memberikan pengalaman pendidikan persamaan hak dan persamaan memperoleh kesempatan belajar.

  1. Dimensi pemberdayaan budaya sekolah dan struktur sosial (empowering school culture and social structure).

Dimensi ini penting dalam memperdayakan budaya siswa yang dibawa ke sekolah yang berasal dari kelompok yang berbeda. Di samping itu, dapat digunakan untuk menyusun struktur sosial (sekolah) yang memanfaatkan potensi budaya siswa yang beranekaragam sebagai karakteristik struktur sekolah setempat, misalnya berkaitan dengan praktik kelompok, iklim sosial, latihan-latihan, partisipasi ekstra kurikuler dan penghargaan staf dalam merespon berbagai perbedaan yang ada di sekolah.

Sedangkan Pendekatan yang bisa dipakai dalam proses pembelajaran di kelas multikultural adalah pendekatan kajian kelompok tunggal (Single Group Studies) dan pendekatan perspektif ganda (Multiple Perspektives Approach).

  1. Pendekatan kajian kelompok tunggal (Single Group Studies)

Pendidikan multikultural di Indonesia pada umumnya memakai pendekatan kajian kelompok tunggal. Pendekatan ini dirancang untuk membantu siswa dalam mempelajari pandangan-pandangan kelompok tertentu secara lebih mendalam. Oleh karena itu, harus tersedia data-data tentang sejarah kelompok itu, kebiasaan, pakaian, rumah, makanan, agama yang dianut, dan tradisi lainnya. Data tentang kontribusi kelompok itu terhadap perkembangan musik, sastra, ilmu pengetahuan, politik dan lain-lain harus dihadapkan pada siswa. Pendekatan ini terfokus pada isu-isu yang sarat dengan nilai-nilai kelompok yang sedang dikaji.

  1. Pendekatan perspektif ganda (Multiple Perspectives Approach)

Pendekatan yang terfokus pada isu tunggal yang dibahas dari berbagai perspektif kelompok-kelompok yang berbeda. Pada umumnya, guru-guru memiliki berbagai perspektif dalam pembelajarannya. Dalam kaitan ini, Bannet dan Spalding (1992) menyarankan agar pembelajaran menggunakan pendekatan perspektif ganda, dengan alasan pendekatan itu nampak lebih efektif. Pendekatan perspektif ganda membantu siswa untuk menyadari bahwa suatu peristiwa umum sering diinterpretasikan secara berbeda oleh orang lain, dimana interpretasinya sering didasarkan atas nilai-nilai kelompok yang mereka ikuti. Solusi yang dianggap baik oleh suatu kelompok (karena solusi itu sesuai dengan nilai-nilainya), sering tidak dianggap baik oleh kelompok lainnya karena tidak cocok dengan nilai yang diikutinya (Savage & Armstrong, 1996).

Keunggulan pendekatan perspektif ganda ini terletak pada proses berpikir kritis terhadap isu yang sedang dibahas sehingga mendorong siswa untuk menghilangkan prasangka buruk. Interaksi dengan pandangan kelompok yang berbeda-beda memungkinkan siswa untuk berempati. Siswa yang memiliki rasa empati yang besar memungkinkan untuk menaruh rasa hormat terhadap perbedaan cara pandang. Tentu saja hal itu akan mampu mengurangi prasangka buruk terhadap kelompok lain.

Menurut Hermandez (dalam Conny S., 2004) paling tidak ada 4 (empat) pendekatan yang dapat dilakukan untuk menerapkan pendidikan multikultural, yaitu:

  1. Pendekatan kontribusi

Pendekatan pertama dan kedua pada umumnya struktur dan tujuan dasar tetap tidak berubah. Strukturnya sama dengan kurikulum nasional dan isi mikrokultur yang diberikan terbatas pada kejadian, peringatan, dan pahlawan.

  1. Pendekatan tambahan

Pendekatan ini hanya berupa tambahan yang dirancang untuk semua siswa atau mahasiswa, tetapi mereka tidak mendapat pandangan umum tentang peran dan kerangka pemikiran kelompok etnik dan mikrokultural. Umumnya hanya mengenalkan simbol-simbol etnik (seperti: baju, senjata, bentuk rumah, dsb). Isi itu ditambahkan pada kurikulum inti tanpa mengubah asumsi dasar dan strukturnya.

  1. Pendekatan transformasi

Transformasi mengubah asumsi dasar dan memungkinkan siswa atau mahasiswa untuk memandang konsep, isu, tema dan masalah-masalah dari perspektif mikrokultural.

  1. Pendekatan aksi sosial

Adapun pendekatan keempat yaitu pendekatan transformasi dengan menambah komponen-komponen yang menghendaki siswa atau mahasiswa untuk membuat keputusan tentang permasalahan sosial tersebut, dan menindakkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

  1. Tujuan Pembelajaran Berbasis Multikultural

Tujuan pendidikan dengan berbasis multikultural dapat diidentifikasi:

  1. Untuk memfungsikan peranan sekolah dalam memandang keberadaan siswa yang beraneka ragam;
  2. Untuk membantu siswa dalam membangun perlakuan yang positif terhadap perbedaan kultural, ras, etnik, dan kelompok keagamaan;
  3. Memberikan ketahanan siswa dengan cara mengajar mereka dalam mengambil keputusan dan keterampilan sosialnya;
  4. Untuk membantu peserta didik dalam membangun ketergantungan lintas budaya dan memberi gambaran positif kepada mereka mengenai perbedaan kelompok (Banks, dalam Skeel, 1995).

Di samping itu, pembelajaran berbasis multikultural dibangun atas dasar konsep pendidikan untuk kebebasan (Dickerson, 1993; Banks, 1994); yang bertujuan untuk:

  1. Membantu siswa atau mahasiswa mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk berpartisipasi di dalam demokrasi dan kebebasan masyarakat
  2. Memajukan kebebasan, kecakapan, keterampilan terhadap lintas batas-batas etnik dan budaya untuk berpartisipasi dalam beberapa kelompok dan budaya orang lain.

 

  1. Langkah Mengembangkan Pembelajaran Multikultural di Indonesia

Ada beberapa hal yang perlu dijadikan perhatian dalam mengembangkan pembelajaran berbasis multikultural, diantaranya:

  1. Melakukan Analisis Faktor Potensial Bernuansa Multikultural. Analisis faktor yang dipandang penting dijadikan pertimbangan dalam mengembangkan model pembelajaran berbasis multikultural, yang meliputi:
  2. Tuntutan kompetensi mata pelajaran yang harus dibekalkan kepada peserta didik berupa pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), dan etika atau karakter (ethic atau disposition)
  3. Tuntutan belajar dan pembelajaran, terutama terfokus membuat orang untuk belajar dan menjadikan kegiatan belajar adalah proses kehidupan
  4. Kompetensi guru dalam menerapkan pendekatan multikultural. Guru sebaiknya menggunakan metode mengajar yang efektif, dengan memperhatikan referensi latar budaya siswanya. Guru harus bertanya dulu pada diri sendiri, apakah ia sudah menampilkan perilaku dan sikap yang mencerminkan jiwa multikultural
  5. Analisis terhadap latar kondisi siswa. Secara alamiah siswa sudah menggambarkan masyarakat belajar yang multikultural. Latar belakang kultur siswa akan mempengaruhi gaya belajarnya. Agama, suku, ras/etnis dan golongan serta latar ekonomi orang tua, Siswa bisa dipastikan memiliki pilihan menarik terhadap potensi budaya yang ada di daerah masing-masing
  6. Karakteristik materi pembelajaran yang bernuansa multikultural. Analisis materi potensial yang relevan dengan pembelajaran berbasis multikultural, antara lain meliputi menghormati perbedaan antar teman, menampilkan perilaku yang didasari oleh keyakinan ajaran agama masing-masing, kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, membangun kehidupan atas dasar kerjasama umat beragama untuk mewujudkan persatuan dan kesatua, mengembangkan sikap kekeluargaan antar suku bangsa dan antra bangsa-bangsa, tanggung jawab daerah (lokal) dan nasional, dan membangun kerukunan hidup.
  7. Menetapkan Strategi Pembelajaran Berkadar Multikultural. Pilihan strategi yang digunakan dalam mengembangkan pembelajaran berbasis multikultural, antara lain: strategi kegiatan belajar bersama-sama (Cooperative Learning), yang dipadukan dengan strategi pencapaian konsep (Concept Attainment) dan strategi analisis nilai (Value Analysis), strategi analisis sosial (Social Investigation). Beberapa pilihan strategi ini dilaksanakan secara simultan, dan harus tergambar dalam langkah-langkah model pembelajaran berbasis multikultural. Namun demikian, masing-masing strategi pembelajaran secara fungsional memiliki tekanan yang berbeda.
  8. Strategi Pencapaian Konsep, digunakan untuk memfasilitasi siswa dalam melakukan kegiatan eksplorasi budaya lokal untuk menemukan konsep budaya apa yang dianggap menarik bagi dirinya dari budaya daerah masing-masing, dan selanjutnya menggali nilai-nilai yang terkandung dalam budaya daerah asal tersebut.
  9. Strategi cooperative learning, digunakan untuk menandai adanya perkembangan kemampuan siswa dalam belajar bersama-sama mensosialisasikan konsep dan nilai budaya lokal dari daerahnya dalam komunitas belajar bersama teman. Diharapkan mampu meningkatkan kadar partisipasi siswa dalam melakukan rekomendasi nilai-nilai lokal serta membangun cara pandang kebangsaan. Dari kemampuan ini, siswa memiliki keterampilan mengembangkan kecakapan hidup dalam menghormati budaya lain, toleransi terhadap perbedaan, akomodatif, terbuka dan jujur dalam berinteraksi dengan teman (orang lain) yang berbeda suku, agama etnis dan budayanya, memiliki empati yang tinggi terhadap perbedaan budaya lain, dan mampu mengelola konflik dengan tanpa kekerasan (conflict non violent). Selain itu, penggunaan strategi cooperative learning dalam pembelajaran dapat meningkatkan kualitas dan efektivitas proses belajar siswa, suasana belajar yang kondusif, membangun interaksi aktif antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa dalam pembelajaran.
  10. Strategi analisis nilai, difokuskan untuk melatih kemampuan siswa berpikir secara induktif, dari setting ekspresi dan komitmen nilai-nilai budaya lokal (cara pandang lokal) menuju kerangka dan bangunan tata pikir atau cara pandang yang lebih luas dalam lingkup nasional (cara pandang kebangsaan).

 

  1. Penerapan dan Pengembangan pendidikan multikultural di Indonesia

Dalam beberapa materi pelajaran dulu dan sekarang telah menunjukkan kepentingan untuk keanekaragaman masyarakat. Misalnya, materi-materi berisi himbauan atas toleransi antar agama. Namun informasi tentang keanekaragaman budaya terbatas pada pengetahuan tentang nama, tempat, kejadian, seperti nama kerajaan, pahlawan yang melawan Belanda, pakaian dan tari tradisional.

Menurut penelusuran Kamanto (2004:53) dalam kurikulum KBK tahun 2004 sudah ada mata pelajaran yang berisi pendidikan multikultural seperti pendidikan sosiologi. Garis besar materi pelajaran sosiologi bagi siswa SMA menyebutkan bahwa fungsi pendidikan sosiologi adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir, berperilaku, dan berinteraksi dalam realitas sosial dan budaya yang bermacam-macam atas dasar etika, nilai dan norma, serta tujuan praktisnya meliputi pengembangan keterampilan perilaku, sikap kritis, dan rasional siswa dalam menghadapi berbagai macam situasi sosial, kebudayaan, masyarakat dan masalah-masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu kecakapan sosial yang diharapkan adalah “menilai keanekaragaman sosial budaya dalam kehidupan sosial”. Dalam garis besar pelajaran untuk semester pertama kelas dua SMA kata “multikultural” disebutkan secara tegas; siswa diharapkan melakukan penelitian tentang formasi masyarakat multikultural, menyajikan temuan temuan penelitian tentang formasi masyarakat multikultural, dan menunjukkan sikap dan perilaku yang diharapkan dari anggota masyarakat multikultural.

Apa yang terdapat dalam kurikulum pendidikan sosiologi SMA di atas, walaupun hanya dalam bagian tertentu saja dari keseluruhan kurikulumnya, namun pendidikan multikultural yang ada telah melaksanakan pendekatan level ketiga dan keempat seperti yang dijelaskan di bagian awal, yaitu pada level pendekatan tranformasi dan pendekatan aksi sosial. Seandainyapun pendidikan multikultural tidak masuk dalam kurikulum inti sebagai mata pelajaran tersendiri, materi-materi multikultural dapat masuk pada bagian-bagian tertentu dari materi pelajaran bidang studi-bidang studi yang ada di sekolah, itu sudah sangat membantu siswa dan mahasiswa dalam mendapat dan memahami pendidikan multikultural. Selain itu agar pendidikan lebih multikultural, maka kurikulum, model pembelajaran, suasana sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, dan peran guru harus dibuat multikultural. Isi, pendekatan, dan evaluasi kurikulum harus mengahargai perbedaan dan tidak diskriminatif. Isi dan bahan ajar di sekolah perlu dipilih yang sungguh menekankan pengenalan dan penghargaan terhadap budaya dan nilai lain. Misalnya, dalam semua bidang pelajaran, dimasukkan nilai dan tokoh-tokoh dari budaya lain agar siswa mengerti bahwa dalam tiap budaya, ilmu itu dikembangkan.

Contoh-contoh ilmuwan dan hasil teknologi, perlu diambil dari berbagai budaya dan latar belakang termasuk jender. Kesamaan dan perbedaan antar budaya perlu dijelaskan dan dimengerti. Siswa dibantu untuk kian mengerti nilai budaya lain, menerima, dan menghargainya. Misalnya, dalam mengajarkan makanan, pakaian, cara hidup, bukan hanya dijelaskan dari budayanya sendiri, tetapi juga yang lain.

Model pembelajaran dalam kelas pun perlu diwarnai multikultural, yaitu dengan menggunakan berbagai pendekatan berbeda-beda. Penyajian bahan, termasuk matematika, dalam memberi contoh, guru perlu memilih yang beraneka nilai. Buku-buku yang ditulis dalam pelajaran pun perlu disusun untuk menghargai budaya lain dan penghargaan jender.

Diskusi dan debat tentang persoalan konflik di masyarakat yang diakibatkan perbedaan budaya dapat membantu siswa kian mengerti makna perbedaan. Maka, penting siswa tidak diasingkan dari persoalan masyarakat. Mereka diajak kritis mengamati apa yang terjadi di masyarakat terlebih dalam kaitan penghargaan terhadap nilai orang lain. Siswa diberi kesempatan mendalami persoalan masyarakat multibudaya. Aneka gagasan coba diterima dan dibuka, sehingga anak sadar keanekaan itu.

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. SIMPULAN

Pendekatan Pembelajaran multikultural merupakan kebijakan dalam praktik pendidikan dalam mengakui, menerima dan menegaskan perbedaan dan persamaan manusia yang dikaitkan dengan gender, ras, dan kelas. Pembelajaran ini memberdayakan siswa untuk mengembangkan rasa hormat kepada orang yang berbeda budaya, memberi kesempatan untuk bekerja bersama dengan orang atau kelompok orang yang berbeda etnis. Pendekatan yang dapat dilakukan untuk menerapkan pendidikan multikultural, yaitu Pendekatan kontribusi, Pendekatan tambahan, Pendekatan transformasi dan Pendekatan aksi sosial.

Pengembangan pendidikan multikultural dapat dilakukan dengan cara melakukan analisis faktor potensial bernuansa multikultural kemudian menetapkan strategi pembelajaran berkadar multikultural. Pendidikan multikultural juga membantu siswa untuk mengakui ketepatan dari pandangan-pandangan budaya yang beragam, membantu siswa dalam mengembangkan kebanggaan terhadap warisan budaya mereka, menyadarkan siswa bahwa konflik nilai sering menjadi penyebab konflik antar kelompok masyarakat.

  1. REKOMENDASI

Pendidikan multikultural sangat cocok di terapkan di Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam kebudayaan. seharusnya selalu dilakukan proses penyebaran dan sosialisasi kebijakan pendidikan multikultural dalam kurikulum nasional serta perlu melibatkan semua stakeholder yang berpengaruh dalam sistem pendidikan tersebut. Dalam pembelajaran ini, guru harus menguasai pendidikan multikultural agar dapat melaksanakan pembelajaran multikultural sehingga peserta didik dapat saling menghargai dan menghormati perbedaan suku, ras, budaya, dan agama serta diharapkan tidak timbulnya kekerasan maupun perkelahian atas perbedaan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

 

Banks, James A. (2002). An introduction to multicultural education. Boston: Allyn and Bacon.

Hermandez, 2001. Multicultural Education. A Teacher’s Guide to Linking Context, Process, and Content (2nd ed). New York, Culombia, Ohio, USA: Merril Prentice Hall.

Kamanto, dkk. 2004. Multicultural Education in Indonesia and Southeast Asia: Stepping into the unfamiliar, Antropologi Indonesia, Depok UI.

Khisbiyah, Yayah. 2000. Mencari Pendidikan Yang Menghargai Pluralisme dalam Masa Depan Anak-Anak Kita. Yogyakarta: Kanisius.

Muhaemin El Ma’hady, 2004. Multikulturalisme dan Pendidikan Multikultural

(sebuah Kajian Awal) 1 – 6 . http://pendidikan.network

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

One thought on “PENDEKATAN PEMBELAJARAN MULTIKULTURAL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s